EMOSI merupakan dasar yang dimiliki setiap orang, dan emosi ini sangat berpengaruh pada tindakan atau perbuatan, bisa menuju ke negatif atau positif. Tergantung pada seseorang bagaimana emosi ini terjadi, ada yang meledak-ledak, ada yang bisa mengendalikan, ada yang dengan ketenangan/zero emotion dalam menghadapi berbagai tantangan atau merespons segala sesuatunya.
Emosi memiliki dampak pada diri sendiri tergantung dalam mengelolanya. Jika bisa mengelola dengan baik maka korelasinya adalah seseorang memiliki kecerdasan emosional/EQ yang stabil, dan kecerdasan emosional itu merupakan kemampuan seseorang untuk mengenali emosi diri, mengelola emosi, memotivasi diri sendiri, mengenali emosi orang lain (empati), dan kemampuan untuk membina hubungan (kerja sama) dengan orang lain.
Korelasi Emosi dengan Kepemimpinan
Dari cara mengelola emosi ini akan berkorelasi dengan kecerdasan seseorang dalam merespons segala sesuatunya, karena cara merespons akan sangat berpengaruh terhadap kualitas hidup seseorang, terutama bagi seorang pemimpin yang merupakan role model dalam suatu organisasi. Hal ini akan terlihat dari cara merespons staf dan cara berkomunikasinya.
Seorang pemimpin sangat terlihat apakah bijaksana atau tidak dalam menghadapi segala sesuatunya, terutama saat merespons suatu masalah: apakah dengan berdebat, atau dengan cara ketenangan mencerna terlebih dahulu, atau hanya mau menang sendiri menghadirkan egonya bahwa dirinya adalah pemimpin, salah atau benar harus diikuti, atau win-win solution dengan mencari cara yang terbaik.
Maka sebagai pemimpin harus menguasai kecerdasan emosional/EQ terutama bagaimana mengelola segala sesuatu dengan ketenangan/zero emotion. Memang tidak mudah menjaga emosi atau menjadi seorang yang mendominasi pada posisi “zero emotion”. Seorang yang memiliki kemampuan ‘zero emotion’ adalah seorang yang memiliki kecerdasan emosional atau ’emotional quotient’ yang sangat baik.
Dalam buku Zero Emotion Learning, orang yang berada pada posisi emosional yang baik atau high personality yaitu seseorang yang bisa menghadapi segala sesuatu dengan ketenangan dan merespons segala sesuatu dengan tetap bijaksana serta melibatkan Tuhan atau meletakkan ESQ dengan baik, paham serta bisa menerapkannya dalam segala lini kehidupan terutama dalam organisasi sebagai pemimpin.
Karena seseorang yang bisa menguasai kecerdasan logika/IQ belum tentu bisa mengendalikan emosionalnya, sebab antara IQ dan EQ tidak berbanding lurus. Orang yang menguasai IQ belum tentu menguasai EQ-nya. Orang yang menguasai IQ itu lebih baik karena bisa menguasai keadaan, dan lebih baik lagi jika bisa menguasai kecerdasan spiritual/SQ sehingga mampu melaksanakan ESQ dalam segala lini kehidupan.
Pentingnya EQ dalam Sosialisasi
Ada orang yang kecerdasan emosionalnya di bawah rata-rata meskipun memiliki pendidikan yang baik. EQ yang rendah cenderung membuat sulit mengendalikan emosi, tidak mampu menjalin pertemanan, serta tidak memiliki rasa simpati dan empati kepada orang lain. Sebaliknya, orang dengan EQ yang baik akan lebih mudah bersosialisasi, menyelesaikan masalah, dan tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik. Memimpin dengan cara yang bijak jauh dari egoisme dan mau menang sendiri.
Dampak Emosi Tidak Stabil pada Pemimpin
Jika seorang pemimpin memiliki kemampuan zero emotion maka dalam menghadapi situasi yang tidak baik, tetap tenang dengan berpikir jernih, emosional yang stabil, dan tetap menyeimbangkan suasana organisasi agar tetap baik. Ini merupakan sikap positif atau positive mental attitude sehingga kharisma sebagai pemimpin terlihat elegan, tidak meledak-ledak.
Jika emosional tidak stabil maka itu akan menguras energi dalam diri dan pengaruhnya juga ke lingkungan organisasi. Seorang pemimpin yang tidak mampu mengendalikan emosinya atau emosinya cepat meledak, energinya cepat terkuras, banyak kehilangan kebijakan dalam dirinya, termasuk wibawanya, sehingga dalam mengambil keputusan menjadi buruk. Akibatnya mudah terserang penyakit yang sumbernya dari ketidakstabilan psikis seperti gangguan saraf, sistem sirkulasi darah, dan sistem pernapasan: tekanan darah tinggi, jantung, asma, tukak lambung, vertigo, migrain, dan lain-lain.
Seseorang yang tidak mampu mengelola emosinya dengan baik memiliki dampak pada karakter yang mudah terseret emosi, merasa gengsi dan harga diri yang terlalu tinggi, takut dinilai pemimpin yang sangat tidak baik, tidak bijaksana, lemah karena tidak mampu menguasai keadaan dengan ketenangan.
Secara moralitas maupun agama, orang yang mampu menguasai keadaan dengan ketenangan dan bijaksana itulah orang yang paham tentang karakter dirinya dan mampu menempatkan diri pada kecerdasan ESQ yang baik.
Zero Emotion sebagai High Personality
Dengan menjadi pemimpin yang “zero emotion” maka tingkat kepribadian diri itu sangat baik atau high personality (dalam buku Zero Emotion Learning), yaitu seseorang yang pada posisi mampu mengelola kecerdasan emosionalnya dengan baik sehingga ada di zona wiseman atau orang yang bijaksana dalam merespons apapun dengan ketenangan, moral, dan keyakinan yang baik.
Bagaimana bisa menjadi seorang yang ‘zero emotion’ jika hidup kita selalu diliputi keegoisan, merasa selalu benar, jauh dari sikap jujur, tidak tenang dalam menghadapi sesuatu, membiasakan kebohongan dan menutupi kebohongan dengan kebohongan lainnya?
Kebohongan, ketidakjujuran, dan ketidaktenangan itu jalan yang paling buruk untuk menggelincirkan seseorang semakin jauh dari ‘zero emotion’, jauh dari moralitas dan spiritual serta emosional yang kamuflase, bukan dari dirinya sendiri, hanya sebagai cover, dan akan menjadi bumerang ke depannya untuk diri sendiri dan juga orang lain.
Zero Emotion dan Integritas
Sebagai pemimpin, sikap negatif atau negative mental attitude berkaitan dengan integritas, yaitu sikap diri berkaitan dengan mutu, sifat, atau keadaan yang menunjukkan kesatuan yang utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yang memancarkan kewibawaan dan kejujuran. Saat integritas ada dalam diri maka pemimpin “zero emotion” sangat bisa diterapkan dalam memimpin suatu organisasi ataupun ke dalam diri sendiri. Hal ini akan membentuk karakter menjadi pemimpin yang tenang secara lahir dan batin meskipun sedang menghadapi berbagai hambatan ataupun tantangan.
Pemimpin “zero emotion” akan memandang semua masalah dengan bijak dan berorientasi pada solusi, bukan untuk menang sendiri/selfish, hanya mementingkan dirinya tanpa mau tahu keadaan yang lainnya, bahkan menghalalkan segala cara walaupun merendahkan orang lain.
Bagi pemimpin “zero emotion” yang wajib dilakukan yaitu cerdas diri, cerdas sikap, cerdas tindakan, dan cerdas sosial. Jika ini mampu dilakukan maka menjadi kebahagiaan bagi dirinya karena selain mampu mengelola dirinya secara moral juga mampu memengaruhi tindakan positif pada organisasinya. Inilah seorang pemimpin yang berguna dan memiliki aturan baik, moralitas, dan spiritual yang baik.
Krisis Moral dan Teori Freud
Jika pemimpin mengalami krisis moral dan pengendalian emosi yang kurang baik, maka dalam menghadapi segala sesuatu mudah sekali tersulut emosi yang meledak-ledak, walaupun hanya dipicu oleh friksi kecil sehingga makin melebar. Ini sangat buruk efeknya bagi organisasi yang dipimpinnya.
Maka kesabaran dan ketenangan wajib dimiliki oleh pemimpin yang menerapkan “zero emotion quotient” atau kecerdasan zero emotion, dengan membuang sikap egoisme dan mementingkan hal yang lebih besar untuk kebaikan secara keseluruhan.
Menurut Sigmund Freud, seorang ahli psikologi dengan teori psikoanalisisnya, di dalam diri kita ada tiga bagian penting yang saling tarik-menarik: Id, Ego, dan Superego.
Id adalah bagian dari diri kita yang penuh dengan keinginan, dorongan, dan nafsu. Id maunya serba instan, enak, dan tanpa memikirkan akibatnya. Ia bekerja berdasarkan prinsip pleasure principle (prinsip kesenangan). Saat pemimpin di posisi ini maka sikap egois dan semaunya yang ditonjolkan tanpa mau tahu keadaan yang lainnya. Akibatnya aturan dan moral dilanggarnya. Inilah salah satu sebab kenapa korupsi terjadi: akibat dirinya dikuasai sikap egois.
Ego adalah bagian diri yang rasional dan realistis. Ia berusaha memenuhi keinginan Id, tapi dengan cara yang bisa diterima dunia nyata. Ego bekerja dengan prinsip reality principle (prinsip kenyataan). Saat pemimpin di posisi ini maka yang dikedepankan hanya kecerdasan logikanya: iya atau tidak, benar atau salah, sesuai atau tidak, tanpa memperdulikan keadaan emosi orang lain.
Superego adalah kecerdasan emosional dan spiritual (ESQ dan “zero emotion”). Ia mewakili nilai-nilai dari agama, orang tua, guru, aturan, dan norma sosial. Superego bekerja berdasarkan morality principle (prinsip moralitas).
Semua itu penting bagi seorang pemimpin: memahami bagaimana Ego mampu menyeimbangkan dorongan Id dan aturan Superego agar bisa membuat keputusan yang bijak.
Zero Emotion Quotient
Maka seorang pemimpin wajib memiliki “zero emotion quotient/kecerdasan zero emotion”. Apalagi seorang pemimpin adalah role model/contoh bagi yang dipimpinnya. Sangatlah tidak elegan jika seorang pemimpin mudah sekali dipermaikan oleh emosinya. Bagaimana bisa menjadi contoh dan dipercaya sebagai seorang pemimpin jika emosinya tidak stabil atau mudah sekali goyah dalam menghadapi apapun?
Pemimpin yang elegan atau bijak adalah pemimpin yang mampu mengelola ESQ dengan baik, yaitu emosional dan spiritualnya. Karena pemimpin itu identik dengan pengambilan keputusan, apalagi dalam mengambil keputusan emosinya tidak stabil, maka dampaknya merugikan diri sendiri dan juga organisasi yang dipimpinnya.
Pemimpin harus memiliki ketenangan emosional, yaitu selalu bisa dalam keadaan seimbang. Jika tidak memiliki “zero emotion quotient”, itu bisa berakibat fatal pada kariernya dan amanahnya hancur karena emosinya yang tidak stabil.
Teori Personality POWER Anaz Almansour
Ini adalah teori dari penulis berdasarkan pengalaman hidup sebagai motivator, dari berbagai kalangan sahabat, klien, dan teman. Ditemukan suatu kesimpulan tentang personality atau kepribadian yang berhubungan dengan emosi, karakter, dan mental dalam menjalani kehidupan. Ada 3 tipe personality menurut teori Anaz Almansour:
1. Low Personality
2. Middle Personality
3. High Personality (yang terbaik)
#Low Personality
Tingkat kepribadian terendah, mentalnya sangat rendah dalam menjalankan suatu pekerjaan, lebih banyak istirahatnya dibanding dengan kerjanya karena etos kerjanya juga rendah. Daya juangnya rendah, suka mengeluh, tidak tahan banting, mudah terpuruk jika ada masalah, lama bangkitnya. Emosinya tidak stabil, suka menyalahkan keadaan, merespons dengan emosi negatif, hanya mementingkan dirinya sendiri.
#Middle Personality
Tingkat kepribadian seseorang mulai memengaruhi sifat dan karakternya. Dalam memimpin orangnya berterus terang, komitmennya masih bisa dipegang. Namun kurang tegas, emosinya masih labil. Sudah mulai memiliki karakter dewasa, bisa memilah mana yang tepat dilakukan, tapi masih terombang-ambing situasi. Semangat bisa naik-turun, performa belum konsisten, butuh dorongan mental.
#High Personality
Tingkat kepribadian yang matang. Orang dengan high personality memiliki mental kuat, karakter dewasa, bijaksana, mampu mengendalikan emosi dengan baik, rendah hati, menghargai orang lain, mampu memotivasi diri sendiri. Kesadarannya tinggi, spiritualnya kuat, selalu menyertakan Allah dalam hidupnya, sehingga lebih tenang dan ikhlas.
Semakin tinggi nilai diri seseorang, semakin tinggi pula etika/attitude, semakin bijaksana, dan semakin mampu menempatkan dirinya dalam segala hal.
Attitude sebagai Pondasi
Hal utama dalam kehidupan adalah attitude. Sikap ini punya efek besar terhadap kehidupan, menuntun pada kebaikan dan keberhasilan. Sikap baik membuat orang lain menghargai kita. Maka sikap sangat penting dalam membangun karakter, terutama sebagai “zero emotion”.
Maka menjadi seorang pemimpin ‘zero emotion’ perlu dibangun dengan kebiasaan yang berkaitan dengan kecerdasan emosional/EQ dan kecerdasan spiritual/SQ, sehingga terbentuk “zero emotion quotient”. Karena menjadi pemimpin “zero emotion” harus bisa mengalahkan ego dalam diri. Keberhasilan seorang pemimpin menjalankan amanah salah satunya adalah mampu mengendalikan emosinya.
Pemimpin yang mampu menguasai keadaan dengan baik adalah pemimpin yang membuat orang lain merasa nyaman, tenang, dan tetap termotivasi. Inilah pemimpin yang berhasil.
Tentang Penulis: Anaz Almansour
Anaz Almansour adalah Motivator Kepribadian, Trainer Zero Emotion Leadership, Certified Professional Emotion Coach, Emotional Intelligence for Effective Leadership, Diploma in Emotional Intelligence, Penulis Buku Best Seller Zero Emotion dan Zero Emotion Learning.



