Mindset atau pola pikir adalah dasar pemikiran yang membentuk karakter, akhlak, dan pola hidup seseorang. Alangkah indahnya apabila mindset kita diperkuat dengan spiritual, sehingga hidup menjadi lebih bermakna dan terarah.
Kita mengenal kecerdasan intelektual (IQ), kecerdasan emosional (EQ), dan kecerdasan spiritual (SQ). Dasar dari IQ, EQ, dan SQ apabila digabungkan akan menghasilkan ESQ, yang akhir-akhir ini dipopulerkan oleh Ari Ginanjar, di mana yang diperkuat adalah hubungan dengan Allah. Bagaimana seseorang dikatakan memiliki kecerdasan spiritual, sementara dia tidak mengenal atau memahami hakikat kehidupan yang dilandasi oleh spiritual yang kuat?
Mindset manusia dalam kehidupan sehari-hari akan lebih mudah dipahami apabila digambarkan sebagai berikut. Ada dua orang yang berbeda: yang pertama adalah penjual bakso, dan yang kedua adalah direktur pemilik perusahaan besar. Jika kita lihat dari dua orang di atas, tentu mereka memiliki pola pikir yang berbeda.
Kita lihat apa yang dilakukan penjual bakso setiap hari.
Pagi-pagi dia sudah bangun setelah shalat Subuh, belanja ke pasar membeli daging kemudian digiling halus untuk bahan dasar pembuatan bakso. Belanja sayuran, mi, dan bumbu masak. Setelah selesai belanja, pulang dan mempersiapkan segala sesuatunya.
Begitulah rutinitas yang dilakukan penjual bakso setiap hari, dari pagi sampai malam. Rutinitas itu sudah terpola dalam kehidupannya.
Dari gambaran penjual bakso tersebut, adakah dia berpikir bagaimana supaya jualannya laku dengan omzet yang fantastik? Memodifikasikan makanannya agar lebih menarik? Memiliki outlet di seluruh daerah?
Sekarang kita lihat bagaimana aktivitas seorang direktur pemilik perusahaan besar.
Pagi-pagi setelah shalat Subuh, dia membaca koran tentang keuangan, pergerakan valas, dan pergerakan saham, sambil menelepon menggunakan smartphone kepada staf dan manajer-manajernya di cabang-cabang, baik di dalam negeri maupun luar negeri. Membaca email lewat smartphone, melihat jadwal meeting.
Setelah berpakaian rapi dengan jas dan kemeja yang branded, dia memanggil sopir dan naik mobil Mercedes-Benz keluaran terbaru sambil terus memantau kegiatan kantor melalui sekretaris pribadinya. Setelah sampai di kantor, dia akan memeriksa neraca keuangan perusahaan, volume penjualan atau omzet perusahaan, serta memikirkan bagaimana perusahaannya bisa masuk bursa saham dengan target sebagai blue chip atau saham unggulan.
Kemudian meeting dengan klien untuk membuat deal-deal bisnis agar bulan ini omzet meningkat drastis. Sampai malam menjelang, dia akan pulang dan beristirahat. Dari gambaran seorang direktur pemilik perusahaan besar, terlihat bahwa dia selalu berpikir jauh ke depan demi kemajuan perusahaannya.
Sekarang, bagaimana jika dari gambaran di atas antara penjual bakso dan direktur kita tukar posisinya? Yaitu penjual bakso kita jadikan direktur, dan direktur kita jadikan penjual bakso.

Yang pertama, apa yang terjadi bila seseorang yang bermindset penjual bakso memulai aktivitas paginya dengan naik Mercedes-Benz? Apa yang kira-kira terjadi? Ke mana dia akan pergi? Tempat makan apa yang dituju jika dia lapar? Orang-orang seperti apa yang akan dijumpainya? Bisnis apa yang akan dipikirkannya?
Betapapun dia menaiki mobil mewah Mercedes-Benz, karena yang menaikinya adalah orang dengan mindset penjual bakso, maka ketika lapar tentu akan makan di warteg. Ketika akan berbisnis, dia akan pergi ke pasar, dan orang-orang yang ditemuinya pun adalah orang-orang di sekitar pasar. Tidak ada sedikit pun terbesit dalam benaknya bahwa di gedung-gedung elit ada peluang bisnis, memikirkan valas, bursa saham, atau omzet fantastis, karena mindset-nya adalah penjual bakso.
Akan berbeda dengan direktur yang kita tukar menjadi penjual bakso. Walaupun dia berjualan bakso, karena mindset-nya adalah pebisnis besar, maka yang terjadi adalah dia akan berpikir bagaimana kedai bakso itu dikembangkan, dipromosikan ke seluruh cabang, memodifikasi bakso dengan berbagai rasa, menargetkan omzet penjualan meningkat drastis, menggunakan marketing melalui internet, serta sistem keuangan dengan program ter-update. Bahkan dia akan memfranchise-kan baksonya dengan konsep syariah.
Ketika lapar, dia akan pergi ke restoran elit, ke komunitas pebisnis, ke mal, atau ke bank untuk transaksi.
Ringkas cerita, yang membedakan dari kisah di atas adalah mindset atau pola pikir, bukan kendaraan atau fasilitas lainnya. Walaupun penjual bakso dinaikkan Mercedes-Benz, karena mindset-nya adalah uang recehan, maka hasilnya akan tetap seperti itu. Dan direktur walaupun berjalan kaki, karena mindset-nya adalah pebisnis besar, maka visinya akan tetap jauh ke depan.
Pertanyaannya, apakah mindset bisa diubah?
Jawabannya adalah: Anda mau berubah atau tidak?
Kalau mau, pasti bisa.
Sekarang mari kita mulai berpikir besar untuk menghasilkan sesuatu yang besar. Berpikir maju dan terus belajar untuk menambah wawasan, dengan diperkuat nilai keagamaan. Apabila seseorang memiliki kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, dan kecerdasan spiritual yang baik, lalu digunakan dan digabungkan, maka akan menghasilkan mindset yang sangat visioner.
Coba kita lihat penggabungan tersebut:
Manusia dengan IQ baik, tetapi EQ rendah dan SQ rendah, akan menghasilkan manusia yang buta hati.
Manusia dengan IQ baik, EQ baik, tetapi SQ rendah, akan menghasilkan tipe diktator atau koruptor.
Manusia dengan IQ rendah, EQ rendah, tetapi SQ baik, akan menghasilkan model hati kosong.
Manusia dengan IQ baik, EQ baik, dan SQ baik, inilah manusia sejati atau paripurna ESQ. Dia memiliki keikhlasan yang tinggi, mental yang baik, karakter dan perilaku yang tawaduk kepada Allah SWT.
Maka hidup akan lebih bermakna jika di setiap langkah selalu menyertakan Allah. Dijamin hidup akan lebih sempurna, berada dalam bimbingan jalan kebenaran, karena kita selalu melibatkan Allah dalam setiap sendi kehidupan.
Coba kita lihat selama ini, banyak yang memisahkan antara pekerjaan dunia dan spiritual. Dunia ya dunia saja, tanpa melibatkan Allah. Jika beribadah ya beribadah saja. Padahal yang terbaik adalah mengubah mindset kita menjadi mindset spiritual. Dijamin kita tidak akan berbuat korupsi, berbuat jahat, atau sewenang-wenang, karena mindset sudah kita ubah menjadi spiritual, yaitu selalu melibatkan Allah dalam segala hal.
Inilah orang yang tepat mendapatkan kebahagiaan dalam semua sisi kehidupan. Bukankah dalam agama juga disebutkan bahwa kerja itu adalah ibadah, untuk memenuhi kebutuhan keluarga? Dengan menerapkan bahwa bekerja adalah ibadah, maka secara otomatis kita akan selalu berada dalam koridor kebaikan, tidak akan mengambil yang bukan hak kita.
Tempatkan pemikiran dan diri kita bahwa selalu ada kebaikan yang harus dijaga, yaitu dengan selalu melibatkan Allah dalam kehidupan ini, maka hidup akan lebih nikmat.
Mari kita ubah mindset yang selama ini mengatakan “dunia ya dunia”, menjadi dunia yang selalu dibarengi dengan Allah dalam setiap langkah. Maka sempurnalah hidup kita.
Ketika kita sudah menempatkan Allah dalam setiap langkah, secara otomatis kita merasa selalu diawasi, sehingga diri kita akan berjalan di jalan kebenaran. Untuk melenceng pun kita akan berpikir ulang.
Mari kita ubah mindset kita dengan pendekatan kepada Allah, meningkatkan spiritualitas. Hidup adalah pilihan. Anda yang menentukan. Tentukan dari sekarang!
ditulis oleh:
Anaz Almansour
Motivator Kepribadian
YouTube : Anaz Almansour | Zero Emotion
Fanpage FB : Motivator Super POWER
X : @motivatorsuper
IG : @motivator_kepribadian
Website : www.ekplorasidiri.id



