Dalam kehidupan diibaratkan menempuh suatu perjalanan yang akan kita tuju.
Tujuan yang akan dicapai tentu memerlukan proses perjalanan dan persiapan — apa saja yang akan dibawa dalam perjalanan itu? Bekal apa saja yang harus disiapkan, peralatan apa yang akan digunakan, kendaraan apa yang akan dinaiki, serta peta sebagai pegangan petunjuk arah supaya tidak kesasar.
GPS adalah alat canggih untuk petunjuk arah secara otomatis yang telah diprogram sebelumnya. Kemudian, persiapan kendaraan itu sendiri harus dalam keadaan baik dan siap untuk perjalanan jauh supaya dalam perjalanan lancar. Apabila ada suatu masalah di tengah perjalanan, biasanya kita akan siap karena sudah dipersiapkan sebelumnya, baik peralatan maupun mental.
Dalam suatu perjalanan, kebanyakan orang sudah merencanakan dan mempersiapkan sebelumnya: kota mana yang akan dituju, berapa lama perjalanan, dan akan mampir ke mana saja.
Sudahkah dipersiapkan bahan bakar kendaraan, di mana akan mengisi ulang, serta peralatan apa saja untuk mengantisipasi bila mobil mengalami kendala?
Berapa banyak pakaian yang akan dibawa?
Semua akan dipersiapkan sebaik mungkin untuk kelancaran perjalanan tersebut. Itu merupakan gambaran bagaimana persiapan suatu perjalanan yang sudah tersistem dan terencana dengan baik — termasuk persiapan mental dan lainnya. Pada intinya, semuanya sudah termanage dengan baik.
Tanpa Peta, Hidup Jadi Kacau
Yang menjadi pertanyaan adalah: bagaimana jadinya kalau dalam perjalanan panjang dan jauh tanpa ada persiapan sama sekali?
Tidak tahu kota mana yang akan dituju, berapa lama dalam perjalanan, atau apa saja yang dibawa untuk memperlancar perjalanan itu?
Kata anak muda sekarang, “Biarin aja kayak air mengalir, ikutin aja, gitu ya… so what gitu lho!!”
Bisa dibayangkan, perjalanan seperti itu pasti kacau — tanpa tujuan, ke sana ke mari, tidak tepat waktu, tidak tahu peta karena tidak mempelajari dan tidak mau tahu.
“EGP,” kata anak Jakarta, he he he…
Wah, pasti berabe jadinya! Amburadul, tidak tentu arah, super kacau balau, dan akhirnya capek sendiri.
Pelajaran yang bisa kita petik adalah: apa jadinya kalau hidup kita tanpa peta kehidupan — tanpa Mapping Life?
Mau ngapain kita? Mau ke mana tujuan kita?
Bagaimana kondisi finansial kita ke depan?
Kita akan jadi apa? Berapa target finansial yang akan ditentukan?
Bagaimana hubungan kita dengan Tuhan?
Bukankah dalam hadis dikatakan: “Barang siapa hari ini sama dengan hari kemarin, maka dia adalah orang yang merugi.”
Wouwww… rugi banget kalau hidup kita hanya gini-gini saja tanpa ada perubahan signifikan dan fantastik!
Pentingnya Merencanakan Kehidupan
Dalam setiap seminar saya, Mindset Biggest Secret, saya sering melontarkan pertanyaan pada para peserta:
“Dari sekian peserta seminar, siapa yang sudah menuliskan jadwal kehidupan Anda?
Tahun ini Anda berada di posisi mana — baik finansial, usaha, maupun spiritualnya?
Tahun depan apa yang akan direncanakan?
Dua tahun ke depan, apa yang sudah terpikirkan?
Tiga, empat, bahkan sepuluh tahun ke depan, sudahkah Anda membuat peta kehidupan?” Jawabannya sering kali menyedihkan. Dari 100 peserta seminar, hanya satu orang yang membuat peta kehidupan atau Mapping Life. Wouw, sangat miris mendengarnya. Bahkan ada yang menjawab dengan santai, “Ya biarin ajalah, Pak, yang penting masih bisa makan kok, wkwkwk…”
Saya hanya tersenyum geli mendengar jawabannya.
Statistik Kesuksesan
Apakah Anda termasuk dari 99 peserta yang tidak memiliki rencana kehidupan?
Ataukah Anda termasuk satu orang yang sudah membuat perencanaan hidup?
Bagaimana dengan Anda semua — mau ikut yang mana?
Tahukah Anda, menurut statistik dunia, orang kaya raya hanya sekitar 3% saja?
Sangat sedikit memang, dan orang sukses adalah mereka yang telah merencanakan kehidupannya dengan membuat Mapping Life.
Sekitar 70% hidup biasa-biasa saja — hanya sedikit yang membuat perencanaan hidup.
Sedangkan 27% sisanya bahkan tidak mau tahu dan tidak mau membuat Mapping Life.
Anda ingin masuk yang mana?
3%, 70%, atau 27%?
Semua pilihan ada di tangan Anda. Kata motivator muslim dunia, Dr. Ibrahim Elfiky,
“Sebenarnya bukan kita tidak bisa berubah, tapi kita tidak mau berubah.”
Saatnya Menulis Peta Kehidupan
Sahabat yang berpikiran sukses, apakah sulit untuk memulai sekarang dan mengubah hidup Anda?
Bukankah Allah menyukai orang yang berubah menuju kebaikan?
Bukankah firman Allah berbunyi:
“Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, sebelum kaum itu mengubah dirinya sendiri.”
Jadi tunggu apa lagi?
Ambil bolpoin Anda dan tuliskan rencana kehidupan:
1 tahun ke depan, 2 tahun ke depan, 3 tahun ke depan — kalau perlu, lebih detail lagi per bulan, per minggu. Jangan lupa catat juga pengeluaran keuangan Anda.
Rencanakan pengeluaran, dan gunakan uang hanya untuk yang sudah direncanakan — kecuali hal-hal mendesak.
Saya yakin, jika dilakukan dengan disiplin, Anda pasti menjadi orang sukses.
Contoh Nyata dari Orang Sukses
Survei membuktikan bahwa hanya sedikit orang yang membuat Mapping Life, dan rata-rata mereka adalah tokoh besar dunia bisnis.
Beberapa di antaranya:
Dari Indonesia:
Abdul Latif, Prabowo Subianto, Sukamdani Sahid, Fadel Muhammad, Sandiaga Uno, Arifin Panigoro.Dari luar negeri:
Aristoteles Onasis, Bill Gates, Henry Ford, Kolonel Harland Sanders (pendiri KFC), Steve Jobs (pendiri Apple), dan banyak lagi.
Impian yang Menjadi Nyata
Pernahkah Anda sebelum memiliki rumah, membayangkan rumah favorit Anda?
Kemudian mencoretnya di atas kertas, membeli majalah untuk melihat referensi rumah, atau menyimpan gambar di ponsel dengan semangat?
Kadang Anda menunjukkan kepada pasangan dan berkata,
“Suatu hari kita pasti punya rumah idaman seperti ini.”
Anda pun semakin termotivasi untuk bekerja keras demi mewujudkannya.
Setelah tabungan cukup, Anda mendatangi arsitek terbaik, menceritakan visi Anda tentang rumah impian.
Sang arsitek menggambar dengan detail, mulai dari ruang tamu, kamar tidur, hingga ruang santai — dan akhirnya rumah itu terwujud indah sesuai impian Anda. Coba renungkan: bukankah Anda sebenarnya sudah membuat peta jalan menuju rumah itu?
Tanpa disadari, Anda telah menerapkan Mapping Life.
Penutup
Sahabat yang berpikiran sukses, segala sesuatu kembali pada keyakinan, pemikiran, dan perencanaan.
Cinta Anda, usaha Anda, cita-cita Anda, dan finansial Anda — semuanya dapat berubah menjadi lebih hebat dari sebelumnya jika direncanakan dengan matang. Anda yang menentukan perubahan hidup.
Semua ada di tangan Anda.
Artikel ini ditulis oleh:
Anaz Almansour
Motivator KepribadianYouTube : Anaz Almansour | Zero Emotion
Fanpage FB : Motivator Super POWER
Twitter : @motivatorsuper
Instagram : @motivator_kepribadian
Website : www.ekplorasidiri.id



