EksplorasiDiri.id Buka Mind Block Rahasia Mengubah Pikiran Biasa Jadi Pikiran Sukses

Buka Mind Block: Rahasia Mengubah Pikiran Biasa Jadi Pikiran Sukses

Kita diberikan kemampuan untuk berpikir maju dan berpikir sukses, dan siapapun di dunia ini pasti menginginkan kesuksesan dan kemajuan dalam segala bidang apapun.

Kebanyakan kemakmuran finansial yang sangat diinginkan dibarengi kemampuan peningkatan spiritual yang tinggi kepada Allah.

Namun banyak dari kita yang masih belum yakin dengan kemajuan yang akan dicapainya, kadang bertanya pada dirinya sendiri:

“Apa mungkin ya saya bisa mencapainya?”

“Apa mungkin ya saya bisa menginginkan seperti yang saya idamkan?”

“Mana bisa saya mencapainya? Nggak mungkinlah!”

“Biarin aja seperti ini, itu kan pikiran orang-orang hebat. Kita hanya orang biasa aja, jangan mimpi ya!”

Yaaaaa, mimpi aja nggak berani, he he he he… kan gratis ya mimpi, tinggal kita impikan apa keinginan kita. Kalau belum berhasil ya coba lagi, simple kan?

Kadang ada orang tua bilang sama anaknya:

“Sudahlah nak, jangan bermimpi tinggi-tinggi, kalau jatuh nanti sakit.”

Yaaaa, mimpi kalau jatuh mana ada sakit? Iya kan?

Sakitnya ya di mimpi. Sudahlah, memang ini kemampuan kita, nggak usah berpikir lebih tinggi.

Itulah yang dinamakan Mind Block, yaitu memblokir pikiran atau membatasi pikiran kita, atau tidak yakin dengan kemampuan diri untuk meraih sesuatu yang lebih baik atau lebih tinggi.

Pernahkah Anda sekalian tahu, gajah adalah hewan yang sangat kuat, bisa merusak apa saja bahkan bisa mencabut pohon kelapa atau apapun pohon bisa dirusaknya ketika gajah marah. Tapi apa yang terjadi begitu dirantai, gajah hanya diam saja?

Karena dia nggak yakin dengan rantai itu dan dia nggak tahu tentang rantai itu. Padahal secara logika gajah sanggup mencabut rantai tersebut. Itulah Mind Block.

Saya akan menceritakan pengalaman saya ketika bertemu dengan sopir taksi yang memiliki Mind Block sangat tinggi.

Begini ceritanya. Dari Bandara Soekarno-Hatta Cengkareng, begitu turun dari pesawat saya mencari taksi menuju Jakarta Selatan. Sekian lama mengantri akhirnya dapat giliran naik.

Setelah sekian lama ngobrol-ngobrol dengan sopir taksi, akhirnya saya tanya, “Siapa namanya Pak?”

Dia jawab, “Kusno, Pak.”

“Sudah berapa lama Pak jadi sopir taksi?”

“Alhamdulillah, Pak, sudah cukup lama jadi sopir taksi, sekitar 15 tahun.”

Wouwwww… jawab saya tercengang, betapa setianya dia menjadi sopir taksi dengan suka dan dukanya.

“Apa nggak ingin berubah, Pak?” saya tanya padanya.

Lalu dia menjawab, “Ya udahlah, Pak, memang udah begini. Saya mau apa lagi?”

Lalu saya tanya lagi, “Nggak ingin hidup lebih dari ini, Pak?”

Dia jawab, “Pak, saya hanya orang kecil. Apa yang mau saya impikan tinggi-tinggi? Saya nggak berani mimpi dan berpikir tinggi dan jauh banget, Pak. Kalau Bapak ya beda lah dengan saya, orang kecil.”

Saya semakin tertarik mengajak bicara dengannya.

“Terus emang apa bedanya saya dengan Pak Kusno? Sama-sama manusia, sama-sama makan nasi,” saya jawab gitu.

Dan dia menjawab, “Ya beda lah, Pak. Bapak orang besar, berpikir besar, berkeinginan besar, punya kemampuan besar, dan pasti berteman dengan orang-orang besar.”

“Lha kalau saya, Pak, orang kecil, berpikiran kecil, keinginan saya pun terbatas, kemampuan terbatas, dan teman-teman juga orang kecil. Berarti kan beda jauh dong, Pak!”

Saya tertawa terbahak-bahak dengan sopir taksi ngomong seperti itu. Terus saya jawab,

“Coba Pak Kusno lihat badan saya, sama nggak dengan Pak Kusno?”

Dia jawab dengan senyum, “Ya sama dong, Pak.”

“Lhaaaa, terus apa yang beda Pak Kusno?”

Saya cecar pertanyaan seperti itu.

“Saya juga makan nasi sama kok, Pak Kusno, kecuali saya makan besi, he he he.”

Dan dia makin tertawa.

“Saya juga makhluk ciptaan Allah, sama dengan Pak Kusno!”

Terus saya bilang sama dia, “Yang membedakan saya dengan Pak Kusno cuma satu, Pak.”

Dia penasaran, “Apa itu Pak yang membedakan kita?”

“Cara berpikir… ya, cara berpikir itu yang membedakan kita.”

“Ohhh gitu ya, Pak.”

Dia mengangguk-angguk, “Tapi saya belum paham, Pak,” dia tanya ke saya.

Lalu saya jawab, “Pak Kusno berpikir jadi kecil dan membatasi pikirannya atas ketidakmampuan itu. Pak Kusno bermimpi aja tidak berani.”

“Iya juga sih, Pak,” sambil dia membayar uang jalan tol.

Sekarang saya tanya sama Pak Kusno, “Pak Kusno, di rumah punya sepeda motor?”

Dia jawab, “Nggak punya, Pak.”

Lalu saya tanya lagi, “Pak Kusno mau sepeda motor?”

“Maulah, Pak, tapi apa mungkin, Pak?”

Nahhh, itulah jawaban Pak Kusno. Yang saya bilang, pikiran Pak Kusno mengatakan ‘nggak mungkin’, maka otak dan pikiran menjawab juga mengatakan ‘ya nggak mungkin’.

Itulah namanya membatasi pikiran atau ‘dipagari’, Pak, bahasa sehari-harinya.

“Ohhhh gitu ya, Pak.”

“Sekarang coba Pak Kusno katakan: saya pasti bisa membeli sepeda motor. Coba katakan dengan lantang, jangan malu, Pak!”

Akhirnya dia katakan dengan lantang, “Saya pasti bisa beli sepeda motor.”

“Lagi, Pak Kusno!” saya bilang sama sopir taksi.

“Saya pasti bisa beli sepeda motor!” sampai dia katakan berulang-ulang sambil mengepalkan tangannya tanda semangat.

Sekarang saya tanya ke Pak Kusno, “Gimana perasaan dan pikiran setelah mengatakan dengan lantang? Yakin nggak bisa beli sepeda motor?”

“Yakin, Pak, pasti yakin.”

“Naaahhh, gitu dong. Artinya Pak Kusno udah membuka Mind Block menjadi yakin, dari nggak yakin.”

“Betul juga ya, Pak,” kata Pak Kusno.

“Mulai besok saya akan menabung dikit demi dikit, Pak, untuk beli sepeda motor.”

“Nahhh, gitu baru namanya berpikir jauh.”

Pak Kusno akhirnya jadi paham dengan Mind Block.

Tidak terasa saya sudah sampai di Jalan Fatmawati dan sudah dekat dengan rumah.

“Pak Kusno, untuk terakhir kali saya tanya, mungkin nggak bisa beli mobil taksi ini?”

Dia berpikir sejenak dan secara mengejutkan dia menjawab,

“Pak, saya berjanji dan yakin mobil taksi ini akan saya beli.”

Wah, jawaban yang luar biasa. Saya senang bisa memotivasi Pak Kusno.

Kemudian saya katakan, “Suatu saat, Insha Allah kalau kita jumpa, mobil taksi ini harus jadi milik Bapak ya.”

Dia mengangguk dan menjawab, “Pastiiii Pak, dan terima kasih atas motivasinya.”

Sahabat yang berpikir sukses, dari gambaran tersebut di atas dapat diambil kesimpulan bahwa yang membatasi diri kita untuk sukses adalah diri kita sendiri, bukan orang lain.

Maka yakinlah dengan diri sendiri untuk berpikir jauh ke depan dan mencapai apa yang akan kita capai, apa yang akan kita tuju, apa yang akan menjadi keinginan kita ke depan.

Harus membuka pikiran jauh sekali atau Open Mind untuk memulai sesuatu kesuksesan.

Lalu bagaimana dengan Anda semua? Apa sudah meyakini apa yang akan dicapai?

Apakah sudah membuat pikiran menjadi lebih berpikir smart?

Semua Anda yang menentukan.

Buatlah suatu target yang melampaui apa yang Anda pikirkan, dengan begitu semangat akan membara untuk mencapai keberhasilan.

Pernah dengar nggak suatu perkataan Muhammad Ali, petinju legendaris:

“Impossible is nothing.”

Segalanya bisa jadi mungkin, bahwa segala yang ada bisa terjadi dan kemungkinan selalu ada, peluang selalu ada.

Maka mulai sekarang jangan batasi pikiran Anda dan jangan pernah katakan:

  • Itu nggak mungkin buat saya!! → Ganti: Pasti bisa buat saya.
  • Mana mungkin itu? → Ganti: Pasti bisa dan semua pasti mungkin.
  • Saya hanya orang biasa saja, mana bisa? → Ganti: Semua pasti bisa.
  • Peluang sudah tertutup, ya sudahlah! → Ganti: Peluang akan selalu tetap ada.
  • Ya emang nasibku seperti ini! → Ganti: Yang mengubah nasib adalah kita sendiri.
  • Dia orang mampu, semua pasti bisa diraih! → Ganti: Kita pun mampu sama seperti dia.

Dan mulai sekarang ayo kita isi dengan “Impossible is Possible.”

Bahwa yang nggak mungkin jadi mungkin.

Bagaimana kita melihat sesuatu tergantung dari pemikiran kita.

Kalau Anda mengatakan tidak bisa, ya akan tidak bisa.

Kalau Anda katakan pasti bisa, ya pasti bisa.

Penulis:
ANAZ ALMANSOUR
Motivator Kepribadian
Dr Personality POWER – Pengembangan Kepribadian

WA : 08995051553
Email : seminar@myself.com
Youtube : Anaz Almansour I Zero Emotion
Fanpage FB : Motivator Super POWER
X : @motivatorsuper
IG :@motivator_kepribadian
Website: www.ekplorasidiri.id